Tiga Bukti Kusapa Dia
Panas sekali cuaca Kota Magelang siang itu. Dengan malas dia melirik ruangan di balik pintu kaca, yang berada tepat di belakangnya. Beberapa menit yang lalu Erwin berada di ruangan itu, guna membayar angsuran rumah. Hmm sepertinya sejuk sekali di dalam ruang berAC. Begitu keluar dari Bank BTN, dunia sesungguhnya dengan senang hati bersiap menguji titik didih keteguhan hati manusia. Dengan langkah gontai dihampirinya penjaga parkir. “Bayar Rp 2.000,00, motor distarter, lalu, ups helm hampir saja lupa,” instruksinya dalam hati. Erwin memicingkan mata menatap jalan raya yang penuh fatamorgana, letih sekali dia menatap, “Bah, aku benci warna hitam.” Bermacam janis kendaraan lalu-lalang di hadapannya. Dia bergumam dalam hati, “Kenapa pula memicingkan mata,” gerutunya dalam hati sembari keheranan. Namun mata yang terlanjur fokus itu tertuju pada pengemudi dengan motor vario hitam berkelir merah. Dipandangnya betul-betul sampai tak terjangkau lagi. Erwin segera mengejar motor yang ...